Garda Terdepan Penanganan Covid-19 Tulus Berjuang di Tengah Risiko Besar Dalam masa pandemi Covid-19

the-hero-kp-covid19

Tim The Hero KRAKATAU POSCO mewawancarai beberapa pahlawan sejati yang berjuang sebagai garda terdepan menghadapi serbuan virus Korona yang menyebabkan infeksi Covid-19. Mereka adalah Desi Natalia Enggal Utami (Perawat yang bertugas di ruang isolasi Covid-19 Ke hlm 11 RSUD Kota Cilegon),

Septiani Gita Pertiwi (Perawat yang bertugas di ruang isolasi Covid-19 Rumah Sakit Krakatau Medika Kota Cilegon), Andri Setiawan (Pelaksana di BPBD Kota Cilegon dan Posko Sekretariat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Cilegon), dan Fetty Puspita (Anggota Palang Merah Indonesia Kota Cilegon).

Mereka berempat merupakan pejuang kemanusiaan yang tulus menjaga masyarakat mulai dari tindak pencegahan sampai perawatan bagi yang terdampak Covid-19. Desi Natalia Enggal Utami memang tidak bertugas di rumah sakit rujukan untuk pasien positif Covid-19 tapi perjuangannya dalam penanganan bagi Orang dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien dalam Pengawasan (PDP) Covid-19 tidak bisa dianggap remeh.

Enggal dan rekan rekan yang bertugas diwajibkan memakai Alat Pelindung Diri (APD) lengkap, mulai dari baju hazmat, masker N95 yang dirangkap dengan masker bedah, hingga kacamata google untuk menghindari kemungkinan terinfeksi Covid-19. Mengenakan APD yang rumit menjadi tantangan tersendiri, khususnya ketika Enggal diharuskan melakukan tindakan infasif yang sedianya sudah sangat berisiko.

Tantangan terberat lainnya adalah kondisi Hipoksia yang dialami akibat pengaruh APD. Dalam kurun waktu satu hingga dua jam sekali rasa pusing dan berkunang menyerang. Pada saat itulah dukungan satu sama lain menjadi pendorong semangat. Enggal dan rekan-rekannya saling semat janji bahwa mereka akan terus saling mengingatkan dan menguatkan satu sama lain ketika kondisi Hipoksia melanda. Semua tantangan tersebut dihadapi dan lewati dengan tegar agar para pasien mendapatkan prosedur penanganan yang aman dan memberikan keselamatan bagi semua pihak.

Enggal mengaku, merasa gelisah dan khawatir saat pertama kali ditugaskan di ruang isolasi Covid-19 karena memiliki orangtua yang telah lanjut usia. ”Rasa takut yang hebat saya rasakan karena masih tinggal bersama orangtua yang sudah lanjut usia. Kita ketahui bahwa lansia memiliki risiko sangat tinggi terpapar virus ini. Saya khawatir membawa virus tersebut dan menularkan ke orangtua yang sangat saya cintai.

Berat memang, tapi sumpah profesi dan tekad untuk menyelamatkan hidup masyarakat sudah menjadi tanggung jawab saya dan memang keinginan orangtua juga,” katanya. Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk terhadap risiko penularan Covid- 19, Enggal berupaya untuk selalu menerapkan protokol kesehatan yang ketat. ”Demi menjaga keselamatan orangtua. Rumah harus steril. Saya biasa masuk dari pintu depan, sekarang harus dari pintu belakang menuju dapur yang sudah diubah fungsi sebagian menjadi ruang mandi. Jadi habis dari luar rumah, langsung mandi dulu baru bercengkrama dengan orangtua,” ujarnya. Hal yang tidak jauh berbeda dialami

Septiani Gita Pertiwi. Namun bagi Septiani, tidak ada lagi istilah ODP dan PDP karena baik ODP dan PDP memiliki risiko yang sama untuk menjadi pasien positif terutama jika hasil pemeriksaan awal menunjukkan tanda-tanda gejala Covid-19. ”Kami menangani pasien dengan penerapan prosedur Covid-19 yang disiplin. Di tengah risiko yang ada, kami yang bertugas Lillaahi ta’aala, menyerahkan kepada Allah SWT sambil tetap berupaya sebaik-baiknya. Kami juga bersyukur karena di RSKM, tempat kami kerja memberikan perlindungan bagi para tenaga medis beserta para karyawannya,” ujarnya.

Septiani mengatakan, sebagai perawat harus tegar melihat kondisi pasien dan pihak keluarga yang tidak boleh berdampingan. ”Dalam keadaan sakit, pasien sangat membutuhkan keluarga di sisinya tapi prosedur Covid-19 tak memberi celah bagi keluarga untuk menunggui pasien. Kondisi itu yang membuat kami prihatin. Makanya saya dan rekan-rekan berusaha sekuat tenaga menjadi sosok keluarga bagi pasien dengan memberi dukungan dan perhatian penuh agar pasien memiliki semangat menuju kesembuhan dan dapat segera kembali ke pelukan keluarga dalam keadaan sehat,” jelasnya.
Septiani mengaku, haru dan bahagia ketika ada pasien yang sembuh.”Ketika pasien-pasien dari ruang isolasi dinyatakan sembuh dan dapat pulang ke rumah, kami merasa sangat bahagia. Ucapan terima kasih dan doa dari keluarga pasien menjadi semangat baru bagi kami, serasa ada energi positif bagi kami untuk terus berjuang,” katanya. Sedikit hal berbeda dari Enggal dan Septiani, dialami oleh Andri Setiawan.

Sebagai petugas posko sekretariat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Cilegon, suka dan duka juga menghiasi kesehariannya. Keterbatasan APD, menurut Andri adalah duka yang cukup sulit dihadapi di awal pandemi Covid-19. ”Kebutuhan dan permintaan akan APD sangat tinggi, sementara ketersediaannya sangatlah minim. Kerja kami kan sangat berisiko karena melawan musuh yang tidak terlihat.

Namun semua itu harus kami hadapi, tentunya dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat dan tertib agar aman terkendali,” katanya. Andri juga mengaku, tidak ada istilah libur dalam masa penanganan pandemi Covid-19 ini. “Kami di sini tidak kenal hari libur. Semua tanggal hitam buat kami. Anak sampai terheran karena ayahnya lebih banyak bertugas daripada bersama keluarga,” tuturnya.

Saat bertugas di lapangan, terkadang Andri dihadapkan dengan dua situasi genting. ”Saat menangani bencana seperti banjir yang baru-baru ini terjadi di Kota Cilegon. Kami dari BPBD diharuskan menyelamatkan para korban dengan gesit karena berpacu dengan kecepatan air tapi di sisi lain, protokol Covid-19 untuk menjaga jarak juga harus dilaksanakan. Untuk itu kami dituntut mengambil keputusan cepat dengan risiko terkecil demi menyelamatkan banyak nyawa,” ungkapnya. Namun, ada suka ditengah-tengah duka.

Bagi Andri, berjibaku dengan bencana saat pandemi membuat koordinasi dan kerjasama dengan berbagai pihak menjadi lebih erat. ”Silaturahmi dan kerja sama jadi semakin luas, koneksi juga semakin banyak. Semoga setelah wabah ini berakhir pun, silaturahmi yang telah terjalin dapat berjalan dengan baik, dengan pihak industri, PMI, dinas kesehatan, rumah sakit, LSM, maupun lembaga-lembaga lainnya,” katanya. Sementara itu, bagi Fetty Puspita, penanganan Covid-19 merupakan wabah masif pertama yang dihadapinya sebagai bagian dari Palang Merah Indonesia (PMI).

Pembuatan dan distribusi cairan disinfektan menjadi salah satu fokus utama PMI di tengah wabah ini. Langkah tersebut diambil karena penyemprotan disinfektan merupakan langkah awal dalam menjaga lingkungan dari paparan virus. Pembuatannya pun tak mudah. APD tetap harus dipakai lengkap agar risiko pembuatan dan penyemprotan cairan disinfektan tetap aman bagi petugas dan masyarakat. Tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan BPBD, hadirnya bencana banjir di tengah pandemi Covid-19 menjadi kondisi yang menantang para petugas PMI.

Penerapan protokol Covid-19 harus beriringan dengan situasi evakuasi yang berpacu dengan waktu sebelum debit air meningkat. “Ketika menangani bencana ataupun melakukan penyemprotan disinfektan kami harus tetap menerapkan protokol pencegahan Covid-19. Namun, dalam kondisi bencana, hal tersebut kadang tak mudah. Oleh karenanya rasa khawatir akan paparan virus ketika beraktivitas di luar menangani bencana pun kadang muncul,” ujarnya. Risiko yang menghantui tidak membuat Fetty dan kawan-kawan PMI menyerah.

Ikhlas dan bertawakal pada Allah SWT adalah penguat bagi Fetty. Mantapnya hati untuk menyelamatkan banyak nyawa manusia membuat ia yakin tetap berjuang pada jalur ini. Tantangan lainnya adalah bagaimana menjaga ketersediaan stok darah saat masa pandemi. ”Minat masyarakat yang mendonorkan darah menurun. Mungkin karena takut terpapar Covid-19. Padahal belum ada penelitian yang membuktikan penularan Covid-19 bisa terjadi melalui donor.

Jadi aman sebenernya. Tapi untuk tetap berupaya memperoleh stok darah, kami berinovasi membuka posko donor darah di beberapa titik di area Kota Cilegon sehingga para pendonor tak lagi harus merasa takut untuk mendonorkan darahnya karena proses donor darah dilaksanakan dengan menerapkan protokol pencegahan Covid-19 yang ketat,” jelasnya.

Dari keempat pejuang kemanusiaan di atas, terdapat pesan yang disampaikan untuk masyarakat agar tetap menerapkan protokol kesehatan dengan menjaga perilaku hidup bersih dan sehat, tidak menganggap remeh risiko penularan Covid-19 dengan tidak keluar rumah jika tidak ada kepentingan mendesak, serta saling memberikan dukungan agar pandemi Covid-19 dapat segera berlalu. (***)

Sumber :
The Hero Krakatau Posco, Harian Banten Raya, Koran Pilihan Warga Banten; Jumat, 5 Juni 2020; Tahun XIV